Dieng Plateau atau dataran tinggi Dieng adalah salah satu situs bersejarah paling terkenal di Indonesia.

Dieng sendiri terletak pada ketinggian +/- 2.000 mdpl dan menjadi dataran tinggi terluas di dunia setelah Nepal di India. Sekitar akhir abad ke 19, sudah banyak wisatawan berkunjung dan berwisata ke Dieng Plateau terutama Bangsa Belanda.

Sejak ratusan tahun lalu Dieng dikenal memiliki banyak tempat-tempat wisata yang menakjubkan untuk ditelusuri. Barisan pegunungan yang gagah, kawah-kawah vulkanik, gua-gua alam, hingga candi-candi yang penuh kisah sejarah serta beberapa danau alami dan air terjun alami merupakan suguhan tak terlupakan yang akan dinikmati pengunjung ketika bertandang ke Dieng.

bentang alam Dieng Plateau

Dieng Plateau memiliki bentang alam yang memukau, bagaikan sepenggal surga yang terjatuh ke bumi. Keindahan panorama serta kesegaran udara khas pegunungan inilah yang mampu menarik para wisatawan untuk kembali datang berkunjung.

Profil Dieng

ProfilKeterangan
EtimologiSecara harfiah, nama Dieng berasal dari bahasa Sansekerta yaitu kata “ardhi” yang bermakna gunung dan “hyang” yang artinya para dewa.

Sedangkan pendapat lain mengartikan bahwa Dieng berasal dari kata “edi” yang berarti cantik dalam bahasa Jawa, dan “aeng” yang berarti aneh.
Luas wilayahDieng Wetan, Kab Wonosobo (282 Ha) dan Dieng Kulon, Kab. Banjarnegara (338 Ha)
Letak Geografis4°37’ – 5°15’ Lintang Selatan, 106°32’ – 106°52’ Bujur Timur.
Letak Astronomi7,20° Lintang Selatan dan 109,92° Bujur Timur.
Pembagian administratifDieng Wetan, Kecamatan Kejajar Kab. Wonosobo dan Dieng Kulon, Kecamatan Batur Kab. Banjarnegara.
Batas WilayahSebelah utara : Kabupaten Kendal, Barat Laut : Kabupaten Pekalongan, Barat : Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
PropinsiJawa Tengah
PotensiPertanian, Pariwisata dan Peternakan
JulukanNegeri diatas awan
Tempat wisata terkenalTelaga Warna, Kawah Sikidang, Candi Arjuna, Sunrise Sikunir, Telaga Menjer, Museum Kailasa, Telaga Pengilon, Sumur Jalatunda, Telaga Cebong, Telaga Merdada, Dieng Plateau Theater.

Informasi Pariwisata Dieng

  1. Informasi harga tiket masuk wisata di Dieng
  2. Tempat wisata Dieng
  3. Suhu udara di Dieng
  4. Itinerary
  5. Aktivitas yang dapat dilakukan di Dieng

Wilayah Administratif

Untuk administratif sendiri, Dieng Plateau merupakan bagian dari wilayah desa Dieng Kulon yang berada di kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, dan juga sebagian lagi merupakan wilayah desa Dieng Wetan, kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo.

Meskipun sebagian besar tempat wisata Dieng berada di kabupaten Banjarnegara namun untuk menjangkaunya para wisatawan biasanya akan melalui kota Wonosobo sebagai gerbang masuk ke Dieng, karena aksesnya yang lebih mudah dan cepat.

Kawasan Dieng

Berdasarkan Pergub No. 5 Tahun 2009 tentang pengendalian lingkungan hidup, kawasan Dieng Plateau terletak pada koordinat 109° 41’ 00’’ sampai dengan 109° 58’ 00’’ Bujur Timur dan 07° 09’ 30’’ sampai dengan 07° 17’ 00’’ Lintang Selatan, yang meliputi 6 (enam) Kabupaten, 18 (delapan belas) Kecamatan dan 109 (seratus sembilan) Desa.

Berikut tabel daftar nama Desa di kawasan Dieng (Pergub No. 5 Tahun 2009).

KabupatenNama Kecamatan dan Desa
WonosoboKecamatan Kejajar 16 Desa (Dieng, Patakbanteng, Jojogan, Parikesit, Tieng, Sureng gede, Igirmranak, Kejajar, Serang, Sembungan, Sikunang, Kreo, Buntu, Tambi, Sigedang dan Campursari)

Kecamatan Garung 6 Desa (Tlogo, Maron, Menjer, Larangan Lor, Desa Mlandi, Desa Tegalsari)

Kecamatan Mojotengah 2 Desa (Slukatan, Deroduwur),

Kecamatan Watumalang 3 Desa (Mutisari, Krinjing, Kalidesel).
BanjarnegaraKecamatan Batur 8 Desa (Dieng Kulon, Bakal, Karang Tengah, Kepakisan, Pekasiran, Pesurenan, Sumberrejo, Batur)

Kecamatan Wanayasa 7 Desa (Penanggungan, Legoksayem, Kasimpar, Jatilawang, Wanareja, Tempuran, Balun)

Kecamatan Kalibening 3 Desa (Kasinoman, Plorengan, Sirukem)

Kecamatan Pejawaran 7 Desa (Gembol, Condongcampur, Ratamba, Sidengok, Penusupan, Grogol, Semangkung).
TemanggungKecamatan Tretep 5 Desa (Tempelsari, Campurejo, Bonjor, Nglarangan, Sigedong)

Kecamatan Wonoboyo 5 Desa (Rejosari, Wates, Cemoro, Tawangsari, Purwosari)
KendalKecamatan Sukorejo 4 Desa (Bringinsari, Purwosari, Ngargosari, Genting Gunung)

Kecamatan Plantungan 3 Desa (Kediten, Blumah, Tlogopayung)
BatangKecamatan Bawang (Gunungsari, Kalirejo, Kebaturan, Jambangan, Deles, Pranten)

Kecamatan Reban 5 Desa (Mojotengah, Pacet, Cablikan, Ngroto, Ngadirejo)

Kecamatan Blado 6 Desa (Gerlang, Kembanglangit, Kalitengah, Bismo, Gondang, Keteleng)

Kecamatan Bandar 4 Desa (Tombo, Tumbrep, Wonomerto, Wonodadi)

Kecamatan Wonotunggal 2 Desa (Silurah, Sodong)
PekalonganKecamatan Petungkriyono 9 Desa (Tlogohendro, Simego, Gumelem, Yosorejo, Kayupuring, Tlogopakis, Curug muncar, Kasimpar, Songgodadi)

Aktivitas Vulkanik

Kawasan Dieng merupakan kawasan dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone dan Dataran Tinggi Tengger. Dieng ini sesungguhnya kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Hal ini pula yang membuat tanah Dieng sangat subur dan kaya akan unsur mineral.

Aktivitas Vulkanik

Meskipun gunung api ini telah berabad-abad mati, beberapa kawah vulkanik masih aktif hingga sekarang. Di antaranya adalah Kawah Sileri dan Kawah Sikidang.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang ada di Dieng, seperti : Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Merdada, Telaga Dringo, Telaga Nila dan Telaga Cebong yang terletak di Desa Sembungan.

Sejarah Aktivitas Vulkanik


Aktivitas vulkanik di Dieng: Tahun 2013, 2011, 2009, 2005, 1993, 1986, 1981, 1979, 1964, 1956, 1954, 1953, 1952?, 1944, 1943, 1939, 1928, 1883-84, 1847, 1826, 1825, 1786, 1776, 1375.

TahunSejarah Aktivitas Vulkanik
1939Erupsi freatik (13 Oktober – 3 November). Retakan membentuk lereng dan menghasilkan pancaran lumpur.
1944(4 Desember). Hujan abu dan lumpur terjadi di desa Kepakisan, Sekalem, Sidolok, Pagerkandang, Djawera, dan Kepakisan-lor hingga gelap pekat.

Akibat letusan 59 orang tewas, 38 orang luka (sebagian luka bakar), dan 55 orang menghilang.
1979(20 Februari) Kawah Sinila mengeluarkan gas karbondioksida dan Hidrogen Sulfida (H2S). 149 orang tewas dan 17 ribu penduduk dievakuasi dari enam desa di sekitar kawah Sinila.
1992(18 Maret) gas beracun menewaskan satu orang di sekitar sungai yang terletak 200 meter sebelah barat Kawah Sikidang.
2009(16 Januari) Kawah Sibanteng meningkat statusnya menjadi waspada.

(1–19 September) terdapat dua gempa vulkanik.

(20–23 September), terdapat setidaknya satu gempa vulkanik, dan satu gempa vulkanik lagi pada (24 September)

(26–27 September) Erupsi freatik terjadi di Kawah Sileri.
2011(23 Mei) Kenaikan status dari Normal (level I) ke Waspada (level II). Kemudian pada tanggal

(29 Mei 2011) status dinaikan dari Waspada (level II) menjadi Siaga (level III).
2013(11 Maret) Kawah Timbang dinaikkan status dari Normal (level I) menjadi Waspada (level II).

Lapangan Geotermal Dieng

Dieng menyimpan kekayaan alam berupa energi panas bumi yang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Lokasi energi panas bumi Dieng terletak di dua kecamatan yakni kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo yang memiliki luas area 107.351.995 ha.

Geotermal Dieng

Pengembangan penyelidikan panas bumi Dieng dilakukan pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1918.

Kemudian pada tahun 1964/1965 UNESCO menetapkan Dieng sebagai sumber panas bumi yang memiliki prospek sangat bagus di Indonesia.

Sumur panas bumi di bor hingga kedalaman antara 1500 m-2000 m dan cadangan uap panas bumi yang tersedia sekitar 280-340 MW.

Tanaman Endemis

Tanaman Endemis

Ada beberapa tanaman endemis yang tumbuh dengan sangat subur di Dieng seperti Purwaceng yang memiliki bentuk serta khasiat hampir sama seperti tanaman gingseng dan Carica yang masih satu keluarga dengan tanaman pepaya.

Selain itu sayur-sayuran seperti kentang, wortel dan kubis juga tumbuh dengan baik di Dieng.

Dieng Culture Festival

Selain itu masyarakat Dieng juga memiliki berbagai tradisi lokal yang menarik untuk diikuti, salah satunya ialah ‘Ruwatan Rambut Gembel’. Ada satu event tahunan yang diselenggarakan pemerintah sebagai upaya melestarikan kebudayaan setempat yaitu ‘Dieng Culture Festival’. Event yang mampu menyedot wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing untuk datang ke Dieng ini biasanya diadakan pada bulan Agustus.

Sebagian besar masyarakat Dieng merupakan suku Jawa yang memeluk agama Islam. Meskipun tidak menutup diri dari pengaruh modernisasi namun demikian adat kebudayaan serta tradisi khas Jawa masih kental terasa seperti dalam prosesi adat perkawinan, kematian, kelahiran khitanan, serta ruwatan dalam tradisi Jawa. Selain dikenal sebagai pekerja keras, masyarakat dataran tinggi Dieng juga memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan lain.

Dieng dengan segala potensi serta kearifan lokalnya mampu menawarkan surga bagi para wisatawan. Tak khayal sebutan Pingkalingganing Buwana yang berarti ‘menjadi pusatnya dunia’ ini diemban oleh Dieng. Harapan besar agar masyarakat dan pemerintah bahu membahu untuk menjaga serta melestarikan kawasan Dieng selaku salah satu pemberi andil bagi sejarah dan identitas bangsa Indonesia.

Data Referensi


  1. L Agus Tjugianto. DIENG PLATEAU.
  2. Jajang Agus Sonjaya. Presentasi.
  3. John Seach. Dieng Volcano, Indonesia (www.volcanolive.com/dieng.html)
  4. Kantor Pariwisata & Kebudayaan Kab. Wonosobo – Boolet, Brosur, dll.
  5. Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kab. Banjarnegara – Boolet, Brosur, dll.
  6. Dieng highlands, Central Java Joanne Doornewaard, Dept. Of physical planning and rural development, agricultural Universitas Wageningen 1991.
  7. Eyang Rusmanto, Juru kunci Gunung Dieng.
  8. Serat Paraden Dieng.
  9. TKPD (Tim Kerja Pemulihan Dieng).