Dieng Plateau berada pada ketinggian 2093 mdpl, terletak di antara dua kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Pemandangannya sangat indah dan sejak dulu sudah menjadi perkembangan kebudayaan di Indonesia. Sekitar akhir abad ke-19, sudah banyak wisatawan berkunjung dan berwisata ke Dieng Plateau terutama Bangsa Belanda. Jelajahi wisata Dieng Plateau di Jawa Tengah, Indonesia dan temukan puluhan keunikan alam dan budaya lokal yang paling khas.

Bentang Alam

bentang alam dieng

Dieng memang memiliki bentang alam yang memukau, bagaikan sepenggal surga yang terjatuh ke bumi. Keindahan panorama Dieng serta kesegaran udara khas pegunungan inilah yang mampu menarik para wisatawan untuk kembali datang berkunjung.

Dataran Tinggi Dieng merupakan hamparan pegunungan yang berada pada ketinggian kurang lebih 2093 meter di atas permukaan laut ini memang diakui tak pernah sepi pengunjung. Setiap tahun jumlah pengunjung Dieng baik domestik maupun mancanegara selalu meningkat. Hal ini terbukti semakin padatnya lalu lintas kepariwisataan di Dieng terlebih pada akhir pekan atau saat musim liburan datang.

Sebenarnya sudah sejak berabad yang lalu kawasan Dieng ini selalu menarik para penjelajah untuk singgah. Berbagai macam potensi yang dimiliki Dieng mulai dari bentang alamnya, kehidupan sosial masyarakatnya, kebudayaan serta sejarahnya hingga kulinernya dapat menjadi salah satu magnet wisata favorit di Jawa bahkan di Indonesia.

Wilayah Administratif

Untuk administratif sendiri, Dieng Plateau merupakan bagian dari wilayah desa Dieng Kulon yang berada di kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, dan juga sebagian lagi merupakan wilayah desa Dieng Wetan, kecamatan Kejajar, kabupaten Wonosobo.

Meskipun sebagian besar tempat wisata Dieng berada di kabupaten Banjarnegara namun untuk menjangkaunya para wisatawan biasanya akan memilih kota Wonosobo sebagai gerbang masuk ke Dieng, karena aksesnya yang lebih mudah dan cepat.

Maps

Dieng Plateau Maps

Aktivitas Vulkanik

Kawasan Dieng merupakan kawasan dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone dan Dataran Tinggi Tengger. Dieng ini sesungguhnya kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Hal ini pula yang membuat tanah Dieng sangat subur dan kaya akan unsur mineral. Itu sebabnya sebagian besar penduduk Dieng berprofesi sebagai petani.

Tanaman Endemis

Ada beberapa tanaman endemis yang tumbuh dengan sangat subur di Dieng seperti Purwaceng yang memiliki bentuk serta khasiat hampir sama seperti tanaman gingseng dan Carica yang masih satu keluarga dengan tanaman pepaya. Selain itu sayur-sayuran seperti kentang, wortel dan kubis juga tumbuh dengan baik di Dieng.

Namun demikian kontur tanahnya yang labil membuat Dieng rawan akan bencana. Banyaknya kawah yang masih aktif mengeluarkan gas, uap air serta material vulkanik lainnya ini sebenarnya sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah ini.

Suhu Udara

Berada di kawasan dataran tinggi menjadikan Dieng cukup dingin. Suhu di sana berkisar antara 12-20 derajat celcius di siang hari, dan pada malam hari turun berkisar 6-10 derajat celcius. Dan pada musim kemarau suhu di Dieng dapat turun hingga 0 derajat celcius.

Bahkan pada puncak musim kemarau pada bulan Juli-Agustus akan muncul fenomena alam turunnya salju di Dieng atau masyarakat lokal menyebutnya ‘Mbun Pas’.

Sebenarnya ini bukan fenomena hujan salju sungguhan namun embun-embun pada dedaunan dan ranting tanaman yang membeku karena rendahnya suhu di Dieng.

Banyak wisatawan yang berkunjung ke Dieng karena tertarik akan fenomena alam tersebut, meskipun sebenarnya keberadaan embun es tersebut cukup merugikan pertanian di Dieng sebab dapat merusak tanaman dan membuat gagal panen.

Sebagian besar masyarakat Dieng merupakan suku Jawa yang memeluk agama Islam. Meskipun tidak menutup diri dari pengaruh modernisasi namun demikian adat kebudayaan serta tradisi khas Jawa masih jental terasa seperti dalam prosesi adat perkawinan, kematian, kelahiran khitanan, serta ruwatan dalam tradisi Jawa. Selain dikenal sebagai pekerja keras, masyarakat dataran tinggi Dieng juga memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan lain.

Kebiasaan Menarik

Karena dinginnya suhu di Dieng, ada satu kebiasaan menarik yang dilakukan penduduk lokal yang mungkin tidak dijumpai di daerah lain yaitu ‘Genen’. ‘Genen’ ini merupakan bahasa jawa lokal yang memiliki maksud menghangatkan tubuh di depan tungku perapian sampai hangat.

Bahkan ketika kedatangan tamu, pemilik rumah akan mengajak tamu tersebut untuk ‘Genen’ di dapur mereka sembari menikmati minuman purwaceng hangat. Karena seringnya ‘Genen’ inilah sehingga membuat kaki mereka menjadi ‘Mongen’ atau menghitam karena selalu terkena panas api. Kebiasaan ini biasa dilakukan masyarakat pada senja hingga kemalam hari, sedangkan pada pagi hari masyarakat biasanya berjemur di bawah kehangatan mentari atau masyarakat setempat menyebutnya ‘Karing’.

Tempat wisata Dieng Plateau

wisata Dieng Plateau

Sejak beratus tahun lalu Dieng dikenal memiliki banyak tempat-tempat wisata yang menakjubkan untuk ditelusuri. Barisan pegunungan yang gagah, kawah-kawah vulkanik, gua-gua alam, hingga candi-candi yang penuh kisah sejarah serta beberapa danau alami dan air terjun alami merupakan suguhan tak terlupakan yang akan dinikmati pengunjung ketika bertandang ke Dieng. Selengkapnya >> Obyek wisata Dieng.

Dieng Culture Festival

Selain itu masyarakat Dieng juga memiliki berbagai tradisi lokal yang menarik untuk diikuti, salah satunya ialah ‘Ruwatan Rambut Gembel’. Ada satu event tahunan yang diselenggarakan pemerintah sebagai upaya melestarikan kebudayaan setempat yaitu ‘Dieng Culture Festival’. Event yang mampu menyedot wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing untuk datang ke Dieng ini biasanya diadakan pada bulan Agustus.

Dieng dengan segala potensi serta kearifan lokalnya mampu menawarkan surga bagi para wisatawan. Tak khayal sebutan ‘Pingkalingganing Buwana’ yang berarti ‘menjadi pusatnya dunia’ ini diemban oleh Dieng. Harapan besar agar masyarakat dan pemerintah bahu membahu untuk menjaga serta melestarikan kawasan Dieng selaku salah satu pemberi andil bagi sejarah dan identitas bangsa Indonesia.